Oleh :
Dr Elinda Rizkasari
Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta
Suatu malam, seorang ibu sebut saja Rina (nama samaran) mengeluh pelan tentang anaknya yang kini duduk di kelas tiga sekolah dasar. Anaknya mudah marah, sulit tidur, dan hampir mustahil dipisahkan dari ponsel. “Kalau gawainya saya ambil, dia tantrum. Tapi kalau saya beri, dia diam. Saya merasa bersalah, tapi juga kelelahan,” katanya. Rina bukan orang tua yang abai. Ia bekerja, mengurus rumah, dan berusaha hadir sebisanya. Namun seperti banyak orang tua lain, ia terjebak pada pilihan paling praktis ketika energi habis: menyerahkan anak pada layar.
Kisah Rina adalah potret banyak keluarga hari ini. Kita hidup di zaman serba cepat, ketika pekerjaan menuntut fokus panjang dan kelelahan mental menjadi rutinitas. Dalam situasi itu, layar hadir sebagai penenang instan. Anak tenang, rumah sunyi, urusan selesai. Semua tampak baik-baik saja hingga suatu hari orang tua menyadari bahwa ketenangan itu dibayar dengan jarak yang semakin lebar.
Masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri. Layar bisa menjadi sarana belajar, hiburan, dan komunikasi. Persoalan muncul ketika layar menggantikan peran interaksi manusia. Anak-anak belajar mengenali emosi, empati, dan batasan bukan dari video yang berganti cepat, melainkan dari percakapan yang sabar, tatapan yang penuh perhatian, dan contoh nyata dari orang tuanya. Ketika ruang-ruang itu menyempit, anak kehilangan “sekolah pertama” yang paling penting yaitu rumah.
Berbagai temuan mutakhir menunjukkan pola yang konsisten. Paparan layar yang tinggi terutama di malam hari mengganggu kualitas tidur, menggeser aktivitas fisik, dan melemahkan ritme keluarga. Anak menjadi mudah gelisah, cepat bosan, dan terbiasa mencari kepuasan instan. Pada saat yang sama, banyak keluarga juga mengalami gangguan interaksi akibat distraksi gawai orang tua. Percakapan terpotong notifikasi, cerita anak bersaing dengan layar, dan kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran emosional.
Ironisnya, semua itu sering tidak disadari karena tidak langsung menimbulkan masalah besar. Anak tetap bersekolah, nilai masih aman, rumah terlihat tertib. Namun pelan-pelan, relasi mengendur. Ketika anak beranjak remaja dan mulai menunjukkan perilaku yang dianggap “sulit”, orang tua kebingungan mencari titik balik. Padahal akarnya sering sederhana: kurangnya kehadiran yang utuh di masa-masa awal.
Lalu apa yang bisa dilakukan orang tua di tengah tuntutan hidup yang tidak ringan?
Solusinya bukan dengan memusuhi teknologi atau menambah daftar larangan yang panjang. Jalan keluarnya justru terletak pada keberanian mengembalikan keseimbangan. Banyak keluarga menemukan perubahan dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten: menyingkirkan gawai dari meja makan agar percakapan kembali hidup, menutup hari dengan rutinitas sederhana sebelum tidur agar anak merasa ditemani, serta membiasakan diri untuk benar-benar mendengarkan cerita anak tanpa menyela oleh layar.
Solusi juga hadir ketika orang tua bersedia memberi teladan. Anak akan sulit diminta mengurangi layar jika orang tuanya sendiri selalu sibuk dengan ponsel. Kehadiran orang tua menatap mata anak saat berbicara, merespons emosi anak dengan sabar, dan mengakui ketika lelah justru mengajarkan pengelolaan emosi yang sehat. Dari sana anak belajar bahwa bosan adalah bagian dari hidup, frustrasi bisa dihadapi, dan relasi lebih penting daripada notifikasi.
Teknologi tetap bisa menjadi bagian dari keluarga, tetapi ditempatkan sebagai alat, bukan pengasuh. Layar digunakan dengan tujuan, ditemani dengan dialog, dan diimbangi dengan aktivitas fisik, permainan bebas, serta kebersamaan. Kesepakatan keluarga dibangun melalui percakapan, bukan paksaan, sehingga anak merasa dilibatkan, bukan dikontrol.
Kembali ke Rina, perubahan tidak terjadi dalam semalam. Ia dan pasangannya tidak berusaha menjadi orang tua sempurna. Mereka hanya memulai dari satu hal: hadir sepenuhnya pada waktu-waktu kecil yang dulu sering terlewat. Beberapa minggu kemudian, amarah anak berkurang, tidur lebih teratur, dan hubungan terasa lebih hangat. Layar masih ada, tetapi tidak lagi memimpin.
Pada akhirnya, pertanyaan penting bagi orang tua bukanlah berapa jam layar yang “aman”, melainkan siapa yang paling sering hadir dalam kehidupan anak. Jika orang tua terlalu sibuk, layar memang akan mengambil alih. Namun layar tidak bisa menggantikan pelukan, tidak bisa menumbuhkan empati, dan tidak mampu membangun karakter.
Anak-anak mungkin tidak akan mengingat aplikasi apa yang mereka gunakan. Tetapi mereka akan mengingat apakah pernah didengarkan tanpa tergesa, ditemani tanpa terdistraksi, dan dicintai tanpa syarat. Dari kehadiran itulah lahir generasi yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga kuat secara emosional dan manusiawi.
———– *** ————–

