Melalui rubrik ini, saya ingin berbagi keprihatinan saya mengenai pentingnya menjaga dan memupuk toleransi di negara kita yang kaya akan keberagaman ini. Indonesia, dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, secara historis telah membuktikan bahwa perbedaan suku, agama, ras, dan budaya bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang mempersatukan kita.
Namun, belakangan ini, kita sering dihadapkan pada tantangan yang menguji kebinekaan tersebut. Berita-berita mengenai perpecahan kecil di masyarakat akibat perbedaan pandangan atau keyakinan, meskipun mungkin terjadi di lingkup lokal, dapat menjadi percikan api jika tidak ditangani dengan bijak. Intoleransi, sekecil apa pun bentuknya, mengikis fondasi persatuan yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa.
Penting bagi kita semua, sebagai warga negara, untuk kembali merenungkan makna toleransi sejati. Toleransi bukan berarti menyetujui semua perbedaan, tetapi menghargai hak setiap individu untuk hidup dan berkeyakinan sesuai dengan prinsip-prinsip yang diyakininya, sepanjang tidak melanggar hukum dan hak asasi manusia. Ini tentang kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dan berdialog secara konstruktif.
Peran keluarga, institusi pendidikan, tokoh masyarakat, dan pemerintah sangat vital dalam menanamkan nilai-nilai ini sejak dini. Kita perlu menciptakan ruang-ruang aman di mana dialog antarbudaya dan antaragama dapat terjadi secara terbuka dan saling mengedepankan empati. Media massa juga memiliki tanggung jawab besar untuk tidak menyebarkan konten yang provokatif dan justru mempromosikan kisah-kisah inspiratif tentang kerukunan.
Mari kita jadikan keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan perpecahan. Dengan semangat toleransi dan saling pengertian, kita dapat memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi rumah yang nyaman dan damai bagi semua warganya, sekarang dan di masa mendatang.
Terima kasih atas ruang yang diberikan.
Hormat saya,
Andi Pratama]
Bermukim di Kediri, Jawa Timur

