Kota Batu, Bhirawa
Pengelolaan kandang ternak kini ikut menjadi sorotan Pemkot Batu di masa cuaca ekstrem yang masih kerab terjadi hingga saat ini. Hal ini menyusul terjadinya banjir luapan di Jl Raya Oro-Oro Ombo, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Banjir luapan ini terjadi akibat tersumbatnya saluran drainase yang ternyata disebabkan material sampah berupa limbah kandang ternak sapi.
Banjir luapan diakibatkanbmembludaknya debit air yang berasal dari hujan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kota Batu pada Jumat (9/1). Hujan yang mengguyur Kota Wisata ini sejak siang, akhirnya menyebabkan terjadinya banjir luapan di Desa Tlekung, sekitar pukul 15.10 WIB
”Akibat kejadian ini, akses jalan menuju Perumahan Martabe Regency sempat tertutup material sampah dan genangan air, serta mengganggu aktivitas warga sekitar,” ujar Suwoko, Plt Kalaksa BPBD Kota Batu, Minggu (11/1).
Dalam olah Tempat Kejadian Bencana (TKB) yang dilakukan BPBD Kota Batu, banjir luapan di Desa Tlekung bersumber dari saluran drainase yang ada di depan Perumahan Martabe Regency. Ditemukan aliran air di drainase tidak berjalan lancar sehingga meluap ke badan jalan.
Menindaklanjuti hal ini, BPBD Kota Batu bersama Agen Informasi Bencana Provinsi Jawa Timur, relawan, dan warga setempat langsung melakukan kaji cepat di lokasi kejadian. Selain itu mereka juga berkoordinasi dengan pihak terkait, serta melaksanakan pembersihan material sumbatan secara manual.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, BPBD Kota Batu mengimbau masyarakat, khususnya peternak sapi agar tidak membuang sisa limbah pakan ternak ke saluran drainase atau gorong-gorong. Selain itu mereka juga mengajak warga untuk melaksanakan kerja bakti pembersihan saluran air secara berkala.
Sebelumnya, Pemkot Batu juga menyoroti masalah alih fungsi lahan yang memicu banjir lumpur yang terjadi di Dusun Beru, Desa/ Kecamatan Bumiaji. Pasca peninjauan Pemkot Batu yang dipimpin langsung Wali Kota Nurochman, ditemukan adanya perilaku masyarakat terkait alih fungsi lahan di kawasan ini.
Wali Kota mengajak masyarakat pengelola hutan untuk berpikir jangka panjang terkait pemanfaatan kawasan hutan di kawasan hulu sungai. Mereka harus mempertimbangkan adanya posisi warga yang berada di posisi bawah (hilir) yang harus dipertimbangkan keselamatannya. ”Dan kepatuhan terhadap ketentuan pemanfaatan kawasan hutan adalah kunci dalam menjaga keselamatan,” ujar Nurochman.
Terkait hal ini, BPBD Kota Batu telah melakukan upaya mitigasi beberapa bulan sebelum terjadinya banjir luapan di Dusun Beru, Desa Sumber Brantas, termasuk pembuatan sudetan- sudetan air. Namun kendala utama di lapangan adalah aliran air yang membawa material berat.
”Sebanyak apapun kanal dan sudetan sungai, tetap tidak akan bisa menampung jika air membawa material lumpur, sampah, hingga potongan kayu. Karenan itu dibutuhkan kesadaran menjaga hutan dan tidak membuang sampah ke aliran sungai menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya banjir luapan,” tandas Wali Kota. [nas.fen]

