26.2 C
Sidoarjo
Tuesday, January 20, 2026
spot_img

Jawa Timur Produsen Padi dan Beras Terbesar, Indonesia Kembali Capai Swasembada Beras


Jakarta, Bhirawa
Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan Indonesia kembali mencapai swasembada beras dalam acara Panen Raya dan Pencanangan Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1).

Pada giat yang diikuti seluruh kepala daerah se Indonesia secara daring tersebut, Presiden Parbowo menegaskan capaian tersebut diraih hanya dalam satu tahun, lebih cepat dari target awal pemerintah.

Sebagai catatan, provinsi Jawa Timur menjadi daerah dengan produksi padi (gabah,red) dan beras terbesar nasional di tahun 2025. Tahun kemarin, Jawa Timur mencatat produksi padi sebesar 10,56 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dan 6,10 juta ton beras. Sementara provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah menyusul di posisi kedua dan ketiga.

Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan swasembada beras merupakan tonggak penting bagi kedaulatan dan kemerdekaan bangsa.

Menurutnya, tidak mungkin sebuah negara benar-benar merdeka jika kebutuhan pangan rakyatnya masih bergantung pada negara lain.

“Hari ini kita telah mencatat suatu kemenangan yang penting. Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau pangannya tergantung bangsa lain,” ujar PrabowoPresiden menjelaskan, target swasembada awalnya dipatok dalam jangka waktu empat tahun.

Namun, seiring konsolidasi kebijakan dan kerja keras seluruh jajaran, target tersebut dipercepat menjadi tiga tahun dan akhirnya berhasil dicapai hanya dalam satu tahun.

Prabowo menyebut percepatan tersebut sebagai bukti kemampuan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Ia menilai capaian swasembada beras bukan sekadar soal angka produksi, tetapi menyangkut harga diri dan kepercayaan diri nasional.

Berita Terkait :  E-Sport Sidoarjo Cari Atlet Handal untuk Porprov IX Jatim

Presiden menegaskan capaian swasembada beras tidak terlepas dari kerja keras para petani di seluruh Indonesia.

Ia menyebut petani sebagai tulang punggung ketahanan pangan sekaligus bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa.

Selain peran petani, Prabowo juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang memungkinkan kebijakan pangan dijalankan secara cepat dan terintegrasi.

Pemerintah, lanjut Prabowo, berkomitmen tidak hanya mempertahankan swasembada beras, tetapi juga meningkatkannya dari tahun ke tahun.

Tantangan seperti perubahan iklim dan cuaca ekstrem diakui tetap ada, namun akan diantisipasi melalui penguatan produksi, ketersediaan sarana pertanian, serta perlindungan terhadap lahan pangan.

Prabowo menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa swasembada beras menjadi langkah awal menuju swasembada komoditas pangan lainnya.

Setelah beras, pemerintah menargetkan swasembada jagung dan komoditas strategis lain sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari , saat mengikuti acara secara daring mengatakan, dukungan Alsintan dari Pemerintah pusat kepada para petani dipenjuruh daerah, sangat membantu para petani meningkatkan produksi pertanian dengan cepat hingga swasembada panganpun berhasil dicapai.

Lebih lanjut Wali Kota mengatakan, menyampaikan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, atas perhatian dan dukungan nyata yang diberikan kepada para petani termasuk di Kota Mojokerto.

Menurutnya, kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo telah memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani dan penguatan ketahanan pangan daerah.

Berita Terkait :  Waspada Mamin Nataru

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas berbagai kebijakan dan bantuan yang sangat dirasakan manfaatnya oleh petani di Kota Mojokerto, mulai dari kenaikan HPP gabah, penurunan harga pupuk subsidi, hingga bantuan alat dan mesin pertanian modern,” kata Ning Ita sapaan akrab wali kota.

Ia menjelaskan, kebijakan penetapan Harga Pokok Penjualan (HPP) gabah oleh Bulog memberikan kepastian harga bagi petani. Jika sebelumnya harga gabah sangat bergantung pada tengkulak dengan kisaran Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram, kini ditetapkan harga minimal Rp6.500 per kilogram.

Selain itu, penurunan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen turut meringankan biaya produksi pertanian. Di Kota Mojokerto, harga pupuk urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, pupuk NPK dari Rp2.300 menjadi Rp1.840, pupuk ZA dari Rp1.700 menjadi Rp1.360, serta pupuk organik dari Rp800 menjadi Rp640 per kilogram.

Sedangkan Bupati Madiun H. Hari Wuryanto, SH MAk didampingi Wakil Bupati dr. Purnomo Hadi, MH., menyatakan mendukung harapan Presiden Prabowo akan keberlangsungan swasembada pangan.

Apalagi, lanjutnya, Kabupaten Madiun merupakan salah satu daerah yang sudah swasembada pangan, dengan di urutan ketujuh untuk produksi padi di di Jawa Timur.

“Jadi kedepan kerjasama dan kolaborasi dengan para petani dan semua komponen harus terus ditingkatkan agar swasembada pangan ini bisa terus terjaga,” harapan Bupati yang akrab disapa Mas Hari.

Pada acara tersebut hadir pula, Danrem 081/DSJ Kolonel Arm. Untoro Hariyanto, forkopimda, staf ahli Bupati, para asisten Sekda, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kab Madiun, dan beberapa Gapoktan yang ada di Kabupaten Madiun.

Berita Terkait :  Polri Bentuk Ditressiber Perkecil Ruang Gerak Pelaku Kejahatan Siber

Sekda Gresik , Achmad Washil Miftahul Arief ,menyampaikan bahwa swasembada pangan merupakan salah satu prioritas nasional yang harus didukung secara kolaboratif dari pusat hingga desa. Menurutnya, konsep pertanian modern berbasis alat dan teknologi menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

“Beberapa negara telah berhasil memperkuat ketahanan pangan melalui industrialisasi pertanian. Ini bisa kita tiru dan kembangkan di Gresik. Pertanian tidak lagi hanya mengandalkan tenaga manual, tetapi didukung alat, teknologi, dan sistem irigasi yang berkelanjutan,” tegas Sekda.

Sekda mencontohkan penerapan irigasi perpipaan di Bawean, yang memanfaatkan Danau Kastoba dan sejumlah mata air. Program tersebut terbukti mampu meningkatkan intensitas tanam dari satu kali panen menjadi dua hingga tiga kali panen dalam setahun.

Konsep serupa, lanjutnya, juga mulai diterapkan di wilayah Gresik utara melalui irigasi perpipaan berbasis pompa, dengan sistem tandon dan pipa PE yang memiliki ketahanan jangka panjang. Teknologi ini diharapkan mampu mengatasi keterbatasan air serta meningkatkan hasil pertanian.

“Terkait hasil panen, alhamdulillah sinergi antarprogram mulai terlihat. Di wilayah ini, komoditas jagung sangat menonjol dan berpotensi dikolaborasikan dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk pengembangan agribisnis. Sinergi dari pusat hingga desa harus terus diperkuat agar program pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” imbuhnya. [gat.min.oky.dar.eri]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru