Mojokerto, Bhirawa
Meski Kondisinya cukup membayakan bagi orang dan kendaraan yang melintas diatasnya. Jembatan Ekonik Turi yang membentang di atas Sungai Brantas yang menghubungkan Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari dengan Desa Prambon, Kecamatan Prambon Kabupaten Sidoarjo, tetap dilalui kendaraan baik roda 4, roda 2 hingga pejalan kaki, hingga Senin (5/1).
Pasalnya Jembatan Turi keberadaannya sangat vital yang dibutuhkan warga untuk beraktivitas menjalankan kegiatan sehari di sawah ladang maupun untuk kegiatan usaha. Sehingga meski kondisi lantai jembatan. Pada kayu yang menopangnya sudah aus dan ditambali dengan seng ini tetap dilintasi oleh kendaraan dan para petani berlalu lalang untuk menuju sawah dan ladangnya yang ada diseberang selatan sungai Brantas.
Menyadari kondisinya yang membahayakan Pemdes Leminggir berulang kali mengusulkan akan tetapi belum terespon Instansi terkait dan tercatat sejak tahun 1997 Jembatan Turi tidak tersentuh pembangunan.
Sementara pada sisi lain Pemdes Leminggir terus berupaya memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat dalam meningkatkan perekonomian warganya. Alhasil pada kepemimpinan Bupati Muh. Albarra, pada Agustus 2025 lalu, jembatan ikonik yang melintang di atas Sungai Brantas ini diusulkan lagi, akhirnya siap direvitalisasi mulai April 2026.
Kabar revitalisasi ini setelah Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa yang didampingi Kepala Desa Leminggir, Khusaeni melihat dari dekat kondisi struktur Jembatan Turi yang sudah dimakan usia. Khususnya kayu lantai dasar jembatan yang sudah mengalami pelapukan atau keropos sehingga membahayakan pengendara. Meski beberapa titik lantai telah ditambal warga secara swadaya menggunakan pelat besi, hal ini belum cukup mengurangi risiko kecelakaan.
”Alhamdulillah, atas laporan kami, pembangunan menyeluruh Jembatan Turi dijadwalkan dimulai pada April 2026. Jembatan ini menjadi jalur vital penghubung antara Mojosari dengan Sidoarjo,” ungkap Khusaeni.
Dengan dibangunnya jembatan di Desa Leminggir ini, Khusaeni berharap aktivitas warga tak lagi dibayangi bahaya kecelakaan atau tercebur sungai. Khususnya para petani, pelajar, hingga pedagang agar bisa melintasi jembatan dengan aman dan bekerja dengan nyaman.
”Jembatan Turi ini merupakan satu-satunya akses petani menuju persawahan yang ada di sisi selatan Sungai Brantas. Karena 100 hektare lahan sawah warga Desa Leminggir ada di selatan sungai, sehingga harus menyeberang jembatan,” pungkasnya. [min.fen]

