24 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Berawal dari Hobi, Pecut Buatan Warga Kediri Mendunia


Kediri, Bhirawa
Bagi Muhamad Hanif, suara cambuk bukan sekadar bunyi dalam pertunjukan kuda lumping. Di balik letupan suara pecut yang keras dan jelas itu, tersimpan perjalanan panjang seorang perajin yang membuktikan bahwa hobi, jika digeluti dengan ketekunan, bisa menjadi sumber penghidupan yang membanggakan.

Pria berusia 58 tahun asal Kelurahan Kemasan, Kota Kediri ini mulai menekuni kerajinan pecut sejak 1998. Awalnya, pecut tersebut hanya ia buat untuk kebutuhan pribadi saat menari kuda lumping, kesenian yang sudah ia cintai sejak kecil.

Ketidakpuasan terhadap kualitas pecut yang beredar di pasaran, terutama dari segi suara, mendorongnya untuk mencoba membuat sendiri. “Waktu itu saya ingin pecut yang suaranya benar-benar keras dan jelas,” kenang Hanif saat ditemui di kediamannya, Senin (5/1).

Tak disangka, pecut buatannya justru menuai pujian dari sesama penari. Dari mulut ke mulut, kabar tentang kualitas pecut buatan Hanif pun menyebar. Dari situlah muncul keyakinan bahwa karyanya memiliki nilai lebih dan layak dipasarkan.

Tanpa modal besar, Hanif memulai usaha kecil-kecilan di rumah. Dibantu anggota keluarga, ia merajut dan menyusun pecut satu per satu dengan penuh ketelitian. Proses pengerjaan dilakukan secara perlahan, mengutamakan kualitas dibanding jumlah produksi. Baginya, setiap pecut harus kuat, indah, dan menghasilkan suara yang khas.

Lebih dari dua dekade berlalu, kerja keras itu berbuah manis. Kini Hanif bersama beberapa teman sesama perajin pecut mampu memproduksi hingga 60 pecut setiap bulan. Pelanggannya datang dari berbagai daerah di Indonesia, terutama Sumatera dan Kalimantan, yang membutuhkan pecut untuk acara budaya dan pertunjukan.

Berita Terkait :  Pertama di Jawa Timur, Bank Jatim Bersama RSUD Srengat Launching Bring Hardja

Yang lebih membanggakan, kerajinan tangan berbasis budaya ini juga berhasil menembus pasar internasional. Amerika Serikat, Belgia, hingga Swedia menjadi beberapa negara tujuan produknya. Di luar negeri, pecut buatannya tak hanya digunakan untuk atraksi, tetapi juga menjadi barang koleksi bagi pencinta budaya Indonesia.

“Paling banyak itu dari Amerika Latin. Di sana itu ada bantengan. Kaitannya dengan Kirab Seribu Banteng Nusantara, itu diikuti peserta dari sembilan benua,” cerita Hanif.

Dalam usahanya, Hanif menghadirkan tiga jenis pecut, yaitu gombyok, cemol, dan candi. Masing-masing memiliki karakter tersendiri dari segi bentuk, motif, dan bahan. Harga pun bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp3 juta, menyesuaikan tingkat kerumitan dan bahan yang digunakan.

Kisah Muhamad Hanif menjadi bukti bahwa produk budaya lokal memiliki daya saing global. Dengan ketekunan, konsistensi, dan kecintaan pada tradisi, sebuah hobi sederhana bisa tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan, bahkan membawa nama Indonesia ke panggung dunia. [van.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru