32 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Guru di Persimpangan Zaman

Oleh :
Pitrus Puspito

Adalah guru dan penulis. Karyanya berupa puisi, cerpen dan esai pernah dimuat di media cetak maupun digital. Buku tunggalnya yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018). Dapat disapa lewat akun instagram: @pitruspiet.

Akhir tahun 2024 dan awal 2025 menjadi periode yang mengusik nurani dunia pendidikan. Media sosial diramaikan dengan kabar tak sedap tentang sejumlah oknum guru: mulai dari kasus pornografi, perselingkuhan, pelecehan seksual, hingga kelalaian administratif yang menyebabkan ratusan siswa gagal mendaftar kuliah lewat jalur tanpa tes. Belum lagi kasus korupsi, kolusi dan praktik nepotisme di lingkungan sekolah. Publik pun lalu bertanya: apa yang sedang terjadi dengan karakter guru kita?

Apakah media sosial, yang sejatinya diciptakan untuk mempermudah komunikasi dan berbagai ilmu, justru menjadi ruang yang mengikis martabat profesi guru? Pertanyaan ini patut kita renungkan bersama, terutama karena guru adalah sosok yang seharusnya menjadi teladan, bukan sekadar pengajar.

Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 1, guru adalah pendidik professional yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Namun secara kultural, makna “guru” jauh lebih dalam. Dalam filosofi Jawa, guru berarti digugu lan ditiru yakni seseorang yang dipercaya dan dijadikan panutan. Di sinilah letak kehormatan sekaligus tanggung jawab besar profesi guru.

Semboyan Ki Hadjar Dewantara yang terkenal itu, kiranya masih relevan hingga kini. Ing ngarsa sung tuladha berarti di depan memberi teladan, ing madya mangun karsa berarti di tengah membangun semangat, dan tut wuri handayani berarti di belakang memberi dorongan atau dukungan. Tiga prinsip ini menggambarkan peran guru secara utuh: pendidik, motivator, sekaligus pemandu kehidupan.

Berita Terkait :  PT SBI dan Pemkab Tuban Gelar Peringatan HAN 2024

Tantangan Menjadi Guru di Era Digital
Saat ini kita hidup di zaman di mana informasi beredar dalam hitungan detik. Media sosial menjanjikan kecepatan dan kemudahan, tetapi juga membawa tantangan besar: tsunami informasi tanpa saringan, kabar bohong, hingga budaya instan yang menggerus nilai kesabaran dan proses.

Fenomena ini menuntut guru untuk tidak hanya melek digital, tetapi juga melek moral. Guru perlu memiliki kemampuan literasi digital yang lebih dari sekadar bisa menggunakan gawai. Ia harus mampu memilah informasi, menilai kebenaran, serta menggunakan teknologi secara bijak dan beretika.

Para pakar pendidikan menyebut, abad ke-21 menuntut penguasaan empat keterampilan utama atau 4C yakni berpikir kritis (critical thinking), kreatif (creative thinking), komunikasi (communication), dan kolaborasi (collaboration). Keempatnya penting, namun tanpa landasan karakter yang kuat, semua akan hampa. Guru bukan hanya fasilitator pembelajaran, tetapi penjaga nilai kemanusiaan.

Guru sejati tidak terjebak dalam dua kutub ekstrem: terlalu tradisional hingga menutup diri dari kemajuan, atau terlalu modern hingga kehilangan akar budaya. Ia harus memiliki karakter lokal yang kuat sekaligus wawasan global yang luas.

Lihat saja Jepang, bangsa yang yang berhasil memadukan tradisi dan kemajuan. Dalam arus modernisasi yang begitu deras, mereka tetap berpegang pada nilai-nilai budaya: disiplin, hormat, dan tanggung jawab. Tradisi menjadi fondasi bagi kemajuan, bukan penghalang. Guru di Indonesia semestinya bisa mengambil inspirasi dari sana, yakni menanamkan nilai-nilai luhur bangsa di tengah semangat globalisasi dan teknologi.

Berita Terkait :  DPRD Jatim Soroti Kasus Bullying di SMPN 3 Doko Blitar

Kearifan lokal membuat guru kokoh berpijak, sementara wawasan global membuatnya peka terhadap perkembangan dunia. Dua hal ini perlu dirajut agar guru tidak hanya cerdas, tetapi juga arif.

Lima Kompetensi Guru Sejati
Untuk kembali menjadi guru sejati, ada lima kompetensi penting yang perlu dikuatkan. Pertama, kompetensi spiritual. Guru harus memiliki iman dan keyakinan yang menjadi sumber nilai dalam setiap tindakan. Spiritualitas yang kokoh akan membuat guru tidak mudah tergoda oleh kepentingan duniawi dan tetap berpegang pada prinsip.

Kedua, kompetensi moral. Keutamaan moral lahir dari kebiasaan dan keteladanan, bukan sekadar pengetahuan. Guru dengan moral kuat akan menjadi pengajar contoh hidup bagi muridnya, karena murid belajar bukan hanya dari ucapan, tetapi dari perilaku gurunya. Ketiga, kompetensi pedagogi. Pedagogi adalah kemampuan memahami karakter, kebutuhan, dan potensi peserta didik. Guru bukan hanya mengajar, melainkan pendamping dalam proses tumbuh kembang murid. Ia perlu peka terhadap perbedaan gaya belajar dan latar belakang anak didiknya.

Keempat, kompetensi kepemimpinan dan manajerial. Guru adalah pemimpin kecil di ruang kelas. Ia harus mampu menciptakan suasana belajar yang menginspiratif, mengelola waktu dan memanfaatkan sumber daya, serta membangun semangat belajar bersama. Kelima, kompetensi komunikasi dan relasi. Guru yang baik adalah komunikator yang efektif. Ia mampu berinteraksi dengan siswa, sesama guru, dan masyarakat dengan empati dan kejelasan. Di era digital, kemampuan ini juga mencakup etika berkomunikasi di ruang maya.

Berita Terkait :  Peningkatan Kualitas, Mendikdasmen Bahas Strategi Peningkatan Mutu dan Akses Pendidikan

Dengan bekal karakter lokal, wawasan global, dan kelima kompetensi tersebut, guru akan kembali menjadi figure yang digugu lan ditiru. Ia tidak hanyut oleh arus popularitas atau kepentingan pribadi. Ia akan menggunakan teknologi sebagai alat, bukan tujuan.

Guru sejati adalah mereka yang tetap menyalakan api kebijaksanaan di tengah derasnya arus digitalisasi. Mereka sadar bahwa setiap kata, sikap, dan keputusan akan membentuk arah masa depan bangsa. Maka, seruan untuk “kembali menjadi guru sejati” bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu. Ini adalah panggilan moral agar guru Indonesia tidak kehilangan jati diri di tengah kemajuan zaman.

Guru sejati bukan hanya pengajar ilmu pengetahuan, tetapi penuntun kehidupan. Ia menanamkan nilai, menumbuhkan karakter, dan menyalakan harapan. Bila para guru kembali memaknai tugasnya sebagai panggilan hati, bukan sekadar profesi, maka pendidikan Indonesia akan kembali berdiri tegak di atas fondasi yang paling kokoh: kejujuran, kebijaksanaan, dan cinta terhadap sesama manusia.

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru