elalui rubrik surat pembaca ini, saya ingin berbagi refleksi pribadi di momen perayaan Natal tahun ini. Setiap tahun, umat Kristiani di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, menyambut kelahiran Yesus Kristus, Sang Raja Damai, dengan penuh sukacita. Tema Natal, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya,” (Lukas 2:14) selalu relevan, terutama di tengah dinamika kehidupan sosial kita saat ini.
Natal bukan sekadar perayaan liturgis di gereja atau tradisi tukar kado dan hiasan pohon cemara. Makna terdalam dari Natal adalah cinta kasih, harapan, dan kedamaian yang dibawa oleh Sang Juruselamat bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, atau golongan. Pesan ini mengingatkan kita untuk mengedepankan sikap belarasa, empati kemanusiaan, dan amal baik dalam interaksi sehari-hari.
Di tengah berbagai tantangan dan konflik, baik skala lokal maupun global, semangat Natal mengajak kita untuk menjadi agen perdamaian. Sudah seharusnya kita meresapi makna kesederhanaan kelahiran Kristus di palungan, yang mengajarkan kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan.
Harapan saya, perayaan Natal ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus memupuk dan menjaga kerukunan, solidaritas, serta semangat gotong royong di tengah keberagaman bangsa kita. Mari kita jadikan momen Natal sebagai pengingat untuk menyebarkan kehangatan, kebahagiaan, dan berkat bagi lingkungan sekitar, sehingga damai sejahtera benar-benar hadir di hati dan kehidupan kita masing-masing.
Akhir kata, saya mengucapkan Selamat Hari Natal 2025 kepada seluruh pembaca yang merayakan. Semoga damai Natal senantiasa menyertai setiap langkah hidup kita dan membawa terang bagi negeri ini.
Hormat saya,
Wahono
Warga Sidoarjo

