Oleh :
Rioga Fransistyawan
Mahasiswa Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
“Menjadi terbaik dalam versimu adalah masa depan yang diinginkan bangsa”
Banyak pandangan dalam masyarakat bahwa tahun baru adalah momen untuk bersuka cita dengan kumpul bersama keluarga, menikmati malam terakhir di tahun ini dan menunggu tahun baru yang akan membawa suasana baru juga. Namun, tidak semua memiliki pandangan seperti itu. Masih terdapat beberapa orang yang mempercayai bahwa tahun baru bukan untuk euforia akan tetapi, momen dimana untuk bisa muhasabah diri untuk lebih baik lagi tahun yang akan datang.
Muhasabah diri juga bukan hanya sebatas mengingat yang kemarin melainkan memperbaiki apa yang sudah dilakukan dan memperkokoh prinsip untuk bekal 365 hari kedepan. Hal ini seharusnya menjadi ladang untuk berlomba memperbaiki diri bukan malah sebaliknya.
Selain itu, muhasabah diri juga menjadikan insan yang selalu tawadhu’ bahwa kenikmatan yang diberikan harus perlu kita syukuri. Berbeda dengan masyarakat sumatera yang merayakan tahun baru menunggu kedatangan bantuan untuk keluarganya. Tidak sedikit dari mereka tidur dengan kenyamanan. Cukup dengan dipan yang beralaskan terpal dan diselimuti dengan pakaian seadanya.
Bencana Alam sebagai Cermin Kehidupan
Bencana alam terjadi bukan karena tidak ada faktor yang mempengaruhi. Pastinya bencana alam terjadi karena terkikisnya alam yang diambil oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Adanya bencana di sumatera dengan banyaknya korban yang sudah tiada adalah tanda bahwa kerusakan di bumi sudah cukup parah. Banjir, longsor, dan angin kencang merupakan tanda bahwa alam sudah lelah menghadapi orang yang rakus untuk mengenyangkan perutnya sendiri.
Bencana yang terjadi harusnya memberikan pandangan positif untuk menjadi cermin kehidupan untuk tidak diulangi kembali. Bukan hanya, menjadi bahan pemotretan saja tetapi, sebagai saudara sebangsa dan setanah air harusnya menjadi cerminan untuk selalu berteman baik dengan alam maupun sesama manusia.
Cermin kehidupan salah satu bentuk muhasabah bersama agar tercipta suasana yang nyaman dan tenang tanpa adanya bencana. Bukan hanya untuk salah satu atau kelompok tertentu. Pemerintah juga perlu muhasabah agar program atau proyek yang dilalukan harusnya dipikir matang bukan karena kepentingan pribadi atau negara namun, harus memikirkan kepentingan masyarakat.
Begitupun dengan masyarakat yang perlu juga untuk muhasabah. Untuk apa ? Untuk bisa mengerti bahwa alam dan manusia adalah satu kesatuan yang harusnya bisa mutualisme yakni sama sama menguntungkan. Bukan hanya memanfaatkan yang ada hingga terus menerus direnggut dengan semena-mena
Tahun Baru sebagai Versi Terbaru
Muhasabah pasti memberikan suasana baru dengan versi terbaru. Bahkan, dengan adanya muhasabah kita bisa lebih mengerti dan memahami kondisi yang ada disekitar. Tidak terpaku dan terulang yang kemarin tetapi, membawa kebahagiaan untuk tahun baru. Membawa suasana yang nyaman untuk semuanya.
Dalam perspektif muhasabah diri, tahun baru bukan tentang mengganti angka di kalender, melainkan mengganti cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Setahun yang telah berlalu menyimpan banyak cerita-keberhasilan yang patut disyukuri, kegagalan yang perlu dipelajari, serta kesalahan yang seharusnya tidak diulangi. Muhasabah mengajarkan bahwa pertumbuhan tidak selalu terlihat dari pencapaian besar, tetapi dari kesadaran untuk mengakui kekurangan diri dengan jujur.
Versi terbaru bukan menjadi orang lain. Tetapi, setelah memperbaiki bisa memberikan kebermanfaatan yang meluas untuk lingkungan masyarakat, bangsa ataupun agama. Tahun baru bukan semua hal baru dari pakaian dan barang. Tetapi, hati nurani yang diperbarui, ketaatan yang diperbarui, hingga persoalan program yang memperburuk keadaan bisa diperbarui dengan hal-hal bermanfaat lainnya.
Pada akhirnya, tahun baru bukan tentang menjadi orang yang sempurna, melainkan menjadi pribadi yang lebih sadar. Sadar akan tanggung jawab, sadar akan tujuan hidup, dan sadar bahwa perubahan sejati dimulai dari keberanian untuk bercermin. Jika muhasabah menjadi bekal utama, maka tahun baru bukan hanya pergantian waktu, tetapi awal dari perbaikan diri yang lebih bermakna.
Dari sinilah tahun baru menjadi versi terbaru dari hasil muhasabah diri. Karenanya menjadi manusia harus memberikan yang terbaik bagi sesama bukan hanya memikirkan ego semata untuk kepentingan pribadi dan beberapa kelompok lainnya.
————- *** ————–

