Pemprov, Bhirawa
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Jawa Timur hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 tercatat sebesar 3,88 persen, turun 0,31 persen poin dibanding Agustus 2024. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja di Jawa Timur, terdapat sekitar tiga hingga empat orang yang belum memiliki pekerjaan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Zulkipli, mengatakan penurunan ini menunjukkan perbaikan kondisi pasar kerja, khususnya di wilayah perdesaan yang mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja.
“Penurunan tingkat pengangguran di Jatim terutama didorong oleh perbaikan di sektor pertanian dan kegiatan musiman di wilayah pedesaan. Ini menunjukkan dinamika pasar kerja di perdesaan jauh lebih positif dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Zulkipli di Surabaya, kemarin.
Secara wilayah, TPT di perkotaan tercatat 4,53 persen, jauh lebih tinggi dibanding perdesaan yang hanya 2,93 persen. Dibanding tahun lalu, TPT perkotaan naik tipis 0,04 persen poin, sedangkan perdesaan turun 0,85 persen poin.
Zulkipli menjelaskan, tingginya pengangguran di perkotaan menunjukkan masih terbatasnya lapangan kerja di sektor formal, terutama bagi tenaga kerja muda dan berpendidikan menengah. “Tekanan di pasar kerja kota masih cukup besar. Kompetisi kerja tinggi, sementara tidak semua lulusan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri,” jelasnya.
Berdasarkan tingkat pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menduduki posisi tertinggi dalam tingkat pengangguran, yakni 6,78 persen pada Agustus 2025. Meski turun dari 6,81 persen tahun sebelumnya, angkanya tetap menjadi yang tertinggi dibanding jenjang pendidikan lain.
Sebaliknya, TPT terendah ditempati kelompok berpendidikan SD ke bawah sebesar 2,12 persen, yang umumnya bekerja di sektor informal seperti pertanian dan perdagangan kecil. “Kondisi ini menandakan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja. Lulusan SMK secara ideal disiapkan untuk langsung bekerja, namun masih banyak yang belum terserap optimal,” terang Zulkipli.
Dari sisi jenis kelamin, TPT laki-laki mencapai 3,90 persen, sedikit lebih tinggi dibanding perempuan 3,86 persen. TPT laki-laki turun 0,56 persen poin dibanding 2024, sedangkan perempuan naik tipis 0,06 persen poin.
Zulkipli menilai, perbedaan tipis ini menunjukkan akses perempuan terhadap lapangan kerja mulai membaik, terutama di sektor jasa dan perdagangan.
BPS menilai, tantangan utama Jawa Timur ke depan adalah memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dan industri (link and match) agar lulusan lebih siap kerja dan terserap sesuai bidang keahliannya. “Peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi kunci agar penurunan pengangguran tidak hanya bersifat sementara, tetapi berkelanjutan dan berkualitas,” pungkas Zulkipli. [rac.wwn]

