Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Jatim Bertahan di Posisi 5,6%

Gubernur Jatim Dr H Soekarwo memberikan paparan dalam Diskusi Masa Depan Outlook 2017 yang digelar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga, Kamis (1/12). [adit hananta utama]

Gubernur Jatim Dr H Soekarwo memberikan paparan dalam Diskusi Masa Depan Outlook 2017 yang digelar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga, Kamis (1/12). [adit hananta utama]

Pemprov Jatim, Bhirawa
Rendahnya transaksi pada pasar luar negeri membuat Pemprov Jatim tak bisa berharap banyak. Karena itu, Gubernur Jatim tidak akan mematok target pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari tahun ini. Angkanya masih sama dengan 2016 ini, yakni 5,6%.
Gubernur Jatim Dr H Soekarwo mengatakan proyeksi pertumbuhan ekononi Jatim tahun depan sama dengan tahun ini. “Pasar luar negeri kita turun semua. Sementara yang kita produk banyak untuk pasar dalam negeri,” kata dia usai acara Diskusi Masa Depan Outlook 2017 dengan topik Meningkatkan Peran Daerah: Menjaga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global di Isyana Ballroom Hotel Bumi, Kamis (1/12).
Menurut Pakde Karwo, sapaan akrabnya, semua negara saat ini proteksionis terhadap pasar dalam negeri. Hal itu tidak ada kaitannya dengan Donald Trump terhadap Amerika Serikat (AS). “Karena semua memproteksi, tidak ada jalan lain selain memperbesar pasar dalam negeri,” ujarnya.
Bagaimana menaikkan pasar dalam negeri? Pakde Karwo mengungkapkan, produk-produk dari Jatim harus mampu lebih murah dibanding produk-produk dari Provinsi Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), dan provinsi-provinsi lain. “Agar lebih murah, ongkos bunga pembiayaan harus lebih rendah,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Airlangga (Unair) Prof M Nasih menyebut target pertumbuhan ekonomi Jatim pada 2017 mendatang cukup realistis. Apalagi, posisi pertumbuhan ekonomi Jatim tahun ini sudah lebih tinggi dibanding nasional.
“Nasional hanya 5,02 persen. Realisasinya sekarang paling banter ke depan hanya 5,1 persen. Kata Presiden Joko Widodo, baru pada 2018 nanti mencapai angka 6 persen,” kata Nasih.
Karena posisi sudah lebih tinggi dibanding nasional, lanjut dia, Jatim perlu mempertahankannya.
Pria yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini menambahkan, icor Jatim sudah cukup bagus, sehingga tambahan investasi yang tidak terlalu banyak bisa mendorong daerah lebih baik pertumbuhan ekonominya.
Yang menjadi persoalan, kata Nasih, jumlah investasi berada di angka yang stagnan. “Kita tidak mungkin investasi dalam jumlah besar, yang kemudian akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi. Jadi, konsentrasi utama memang di investasi,” katanya. [tam]

Tags: