Angkutan Umum Berbasis Aplikasi ‘Tumbangkan’ Moda Resmi

angkutan-umum-berbasis-aplikasi(Polemik Moda Transportasi di Surabaya)
Surabaya, Bhirawa
Kondisi angkutan umum yang ada di Kota Surabaya kian menunjukkan titik kelesuan. Kondisi ini diperparah dengan adanya kendaraan pribadi yang bertransformasi menjadi angkutan umum berbasis aplikasi.
Kendaraan angkutan berplat hitam ini jumlahnya kian meningkat ditengah kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi. Alhasil, angkutan umum resmi semakin menunjukkan keterpurukannya ditengah teknologi yang begitu cepat.
Dampaknya, banyak dikeluhkan oleh para sopir angkutan umum karena tidak mampu mengejar setoran kepada pemilik. Begitu pula pemilik kesulitan melunasi cicilan. Inilah akibat langsung yang dirasakan oleh moda angkutan umum.
Ketua Organisasi Angkutan Daerah Surabaya, Sunhaji saat dikonfirmasi Harian Bhirawa, Rabu (30/11) kemarin menyanyangkan sikap pemerintah yang dinilainya tidak tegas dalam menindak adanya angkutan umum berbasis online tersebut. Padahal, keberadaan angkutan online tersebut jelas melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.
“Di Undang-Undang tersebut kan sudah jelas bahwa setiap kendaraan umum wajib berbadan hukum dan uji kir. Tapi, pemerintah terkesan menutup mata terhadap kendaraan yang digunakan angkutan umum illegal merajalela di Surabaya,” katanya.
Ia mencontohkan, di Pulau Denpasar Bali tidak ada kendaraan umum berbasis online ini berkeliaran. Sebab, pemerintah disana telah melarang keberadaan angkutan umum online tersebut. “Meski disana (Bali, red) itu jujugan wisatawan, tapi pemerintah telah bersikap tegas terhadap angkutan online,” ujarnya.
Ditanya beralihnya masyarakat memilih angkutan umum berbasis aplikasi karena lebih murah, Sunhaji membenarkannya. Namun, perlu diingat untuk melakukan usaha itu harus ada izinnya. Pihaknya menuturkan bahwa kalau mengurus perizinan untuk satu unik kendaraan menghabiskan puluhan juta rupiah.
“Untuk satu unit angkutan umum saja bisa menghabiskan dana Rp 20 juta. Nah, mereka (pelaku angkutan umum online, red) kena apa?. Mereka juga seakan tidak menghiraukan Undang-Undang setiap kendaraan umum wajib berbadan hukum. Ini kan tidak adil,” keluhnya.
Bahkan, Sunhaji merinci angkutan umum yang bergabung di Organda Surabaya yang mencapai 10 ribu unit kian menunjukkan penurunan terkait beroperasi. Taksi yang saat ini berjumlah 6 ribu tinggal 2.500 yang masih aktif beroperasi. Sedangkan, untuk mikrolet dari jumlah 4.500 yang beroperasi hanya 2 ribu unit.
“Ini semua karena keberadaan angkutan umum online. Semua angkutan umum yang resmi telah dihabisi adanya angkutan online illegal,” pungkasnya.
Sementara, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Surabaya Tundjung Iswandaru juga megakui akhir-akhir ini kondisi angkutan umum sedang lesu. Ia menuturkan bahwa kurang nyamannya angkutan umum membuat calon penumpang enggan menggunakannya.
“Selain itu juga waktu tunggu yang sangat lama dan juga kondisi angkutan umum yang kurang baik. Hal inilah yang membuat calon penumpang beralih pada kendaraan pribadi,” kata Tundjung saat ditanya penyebab angkutan umum yang lesu ini kepada Harian Bhirawa.
Selain itu, lanjut Tundjung, mudahnya kepemilikan sepeda motor dan kondisi lalu lintas yg semakin padat membuat motor menjadi pilihan yang lebih cepat. “Meskipun tingkat fatalitasnya apabila terjadi laka lantas lebih fatal,” ungkapnya.
Dengan begitu, Dsihub Kota Surabaya mengimbau kepada seluruh pemilik angkutan umum agar memperbaiki kondisi kendaraannya yang sudah tidak layak jalan. Selain itu, pihaknya mengimbau kepada pemilik angkutan umum untuk segera memperbaiki manajemennya.
“Kami terus berupaya untuk terminal-terminal dan halte angkot juga telah dilakukan pembenahan sehingga lebih nyaman dan aman,” ujarnya.
Hal ini diakui Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya Irvan Wahyu Drajat. Menurutnya, sekarang ini kondisi angkutan umum memang lagi lesu. Tidak hanya terjadi di angkutan kota, namun juga terjadi pada bus AKAP dan AKDP.
“Apalagi masyarakat lebih cenderung memilih naik kendaraan pribadi dibandingkan dengan angkutan umum,” terangnya. (geh)

Tags: