Tarif Listrik Naik Pengusaha Hotel Resah

Surabaya, Bhirawa
Keputusan Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR RI mencabut subsidi dan menaikkan Tarif Tenaga Listrik (TTL) bagi pelaku bisnis dan industri menengah I-3 (go public) dan industri besar I-4 selama 2 bulan sekali secara bertahap mulai 1 Mei 2014, dirasa memberatkan bagi pengusaha perhotelan di Surabaya.
Besaran kenaikan tarif listrik hingga akhir tahun ini untuk I-3 golongan industri yang memiliki daya >200 Kva sebesar 38,9 persen sedangakan I-4 industri yang memiliki daya 30.000 Kva naik hingga 64,7 persen.
Dampak kenaikan TTL ini membuat industri perhotelan di Surabaya semakin tertekan, karena selain persaingan tarif antar hotel yang semakin ketat juga beban kebutuhan lain yang juga ikut naik.
“Pertumbuhan perhotelan akan sulit karena setelah UMK naik 26 persen, BBM, gas, bahan makanan dan listrik yang juga ikut naik, sementara tingkat hunian kamar hawa tahun ini mulai berkurang karena adanya bencana maupun persaingan yang ketat,” jelas Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur-M Soleh, Senin (10/2).
M Soleh menambahkan, kalau pun tarif listrik naik idealnya tarif hotel juga ikut naik akan tetapi nantinya akan berdampak terhadap berkurangnya pengunjung hotel, kalaupun terpaksa naik, mungkin berkisar antara 3-5 persen.
Dihubungi terpisah, General Manajer Inna Simpang Surabaya Sunarko Hidayat, dalam 2 tahun ini sudah ada 50 hotel yang beroperasi di Surabaya, persaingan hotel terutama dalam harga juga semakin ketat sehingga diperlukannya peran dari pemerintah agar pertumbuhan perhotelan khususnya di Surabaya bisa meningkat.
Tidak menuntut kemungkinan saat TTL naik bulan Mei, terpaksa pihak hotel juga ikut menaikan tarif sebesar 10 hingga 20 persen karena semua kebutuhan pasti akan mengalami kenaikan. Namun Sunarko optimis dengan naiknya TTL ini tidak akan mempengaruhi pengunjung untuk menginap di hotel karena pertumbuhan ekonomi di Surabaya saat ini cukup bagus. “Untuk itu di awal tahun ini kami sudah lakukan renovasi seluruh kamar dan juga menggelar promo besar-besaran untuk mengaet pengunjung,” pungkasnya.
Promo yang diberikan adalah turunnya tarif kamar yang semula Rp575 ribu kini turun Rp369 ribu++/room only dengan menunjukkan sms yang dikirim Inna Simpang melalui sms broadcast di 10 kota terbesar di seluruh Indonesia bagi 10 ribu nomor yang berlaku hingga 31 Mei 2014.
Upaya penghematan juga dilakukan Hotel Inna Simpang dengan cara mengurangi SDM yang kurang produktif serta mengganti pemanas berdaya solar berganti ke elemen listrik, mematikan energi listrik yang tidak diperlukan dan juga mengganti bohlam lampu yang lebih hemat. “Meskipun upaya penghematan yang dilakukan ini sebenarnya tidak banyak berdampak karena masih terlalu kecil tapi itu semua harus dilakukan,” ujarnya.
Sedangkan beberapa perhotelan memilih wait and see terhadap dampak kenaikan tarif tenaga listrik ini. “Kita masih wait and see dulu apakah kenaikan tarif listrik ini juga berdampak kepada kebutuhan eksternal,” ungkap General Manager Hotel Santika Premier Gubeng Surabaya-Agus Triyono.
Agus menambahkan, apabila kebutuhan eksternal juga ikut naik otomatis internal juga mengalami kenaikan salah satunya adalah kesejahteraan karyawan.
“Kalaupun nantinya harus menaikkan tarif hotel itupun tidak bisa tinggi, tergantung dari profit margin dan kita berharap kenaikannya dibawah 10 persen, sebab untuk pertahun saja kenaikan tarif hotel hanya mencapai sekitar 5-6 persen saja dan itu sudah paling tinggi,” pungkasnya. [riq]