Sumenep Tak Ingin Menanggung Efek Sosial Pengeboran Migas

Sumenep, Bhirawa
Dikabupaten Sumenep, sebanyak 4 kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) melanjutkan eksplorasi migas. Keempat perusahaan migas tersebut diantaranya Husky Cnooc Madura Limited (HCML), SPE Petrolium, Petro Java,  dan Energi Mineral Langgeng (EML).
Kepala Kantor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumenep, Abd Kahir mengatakan, hingga saat ini ada 4 kontraktor KKKS migas yang melanjutkan eksplorasi migas baik on shore seperti SPE Petrolium dan EML, maupun off shore yakni Husky Cnooc Madura Limited (HCML) dan Petro Java. “Ada empat perusahaan migas yang melanjutkan eksplorasi migas di Sumenep. Empat perusahaan itu tengah aktif melakukan komunikasi dengan kami,” kata Kahir, Senin (10/02).
Dia memaparkan, pada prinsipnya pemkab terbuka terhadap semua KKKS yang akan masuk dan melakukan kegiatan di Sumenep. Namun KKKS diminta lebih intens berkomunikasi dengan daerah agar Sumenep tidak hanya menjadi pusat eksploitasi migas dan menanggung efek sosial. “Migas ini harus bisa mensejahterakan masyarakat, bukan hanya dikeruk kekayaannya, kemudian warga Sumenep tetap menjadi korban,” ungkapnya.
Ditegaskan, Pemkab juga mengajukan beberapa persyaratan kepada KKKS yang sudah sampai pada tahap ekploitasi, yakni perusahaan migas itu bisa memiliki kantor perwakilan di Sumenep dan bekerja sama dengan BUMD setempat.
“Seperti yang sudah dilakukan Husky, yang telah memfasilitasi SDM PT WUS dan Kantor ESDM untuk mengikuti  pelatihan pengadaan  barang dan jasa. Ini kaitannya dengan regulasi barang dan jasa di bidang migas. Sehingga nanti ada sinkronisasi jasa-jasa yang akan ditawarkan dengan Pemkab,” imbuhnya.
Kahir menegaskan, empat perusahaan migas yang telah eksplorasi tersebut tengah intens melakukan komunikasi dengan Pemerintah Daerah, terkait kegiatan lanjutan eksplorasinya. “Yang paling intens komunikasi dengan kami yakni Husky di Raas, SPE Petrolium kegitannya di Pragaan, Petro Java di blok North Kangean dan Energi Mineral Langgeng (EML) di Saronggi. Dari keempat KKKS itu, perusahaan migas yang on shore yakni SPE Petrolium dan EML. Sedangkan lainnya off shore,” ungkapnya.
Ia menambahkan, untuk perusahaan migas yang telah melakukan eksploitasi di Sumenep baru dua KKKS, yakni PT Santos dan KEI. Untuk PT Santos, ekploitasi tetap dilakukan di Blok Maleo, namun sekarang bertambah dengan blok peluang.
“Sedangkan KEI, selain di Pagerungan, juga menggarap Terang Sirasun Batur (TSB) di  di perairan sebelah selatan Pulau Komirian, Kecamatan Raas. Sedangkan yang di Sepanjang sudah dihentikan karena persediaan migasnya sudah habis,” tuturnya.
Dia berharap, keberadaan migas di Sumenep ini membuat masyarakat lebih sejahtera secara ekonomi. Sehingga perusahaan tidak terkesan hanya mengeruk kekayaan pulau Madura terutama diujung timur Madura. “Kami hanya berharap, kekayaan Sumenep dibidang migas ini bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat Sumenep,” harapnya. [sul]