Peringati Pemberontakan PETA, Pemkot Gelar Drama Kolosal

Blitar, Bhirawa
Memperingati pemberontakan Tentara PETA di Blitar yang dipimpin oleh Soedanco Soepriadi pada tanggal 14 Pebruari 1945 lalu atau ke-69 tahun 2014, Pemerintah Kota Blitar menggelar Drama Kolosal Pemberontakan PETA di Blitar, Jumat malam (14/2) kemarin.
Bahkan acara yang bersamaan dengan pasca letusan Gunung Kelud ini bisa berjalan dengan lancar yang dimulai sejak pukul 20.00 sampai 22.00 WIB di depan monumen Tentara PETA di jalan Sudanco Soepriadi.yang juga di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Raden Wijaya. Dalam pementasan Drama Kolosal Perjuangan Pemberontakan PETA ini melibatkan Anggota Kodim 0808 Blitar bersama para pejalar dan seniman se-Kota Blitar.
Diungkapkan Wali Kota Blitar, Muh. Samanhudi Anwar, SH, pagelaran Drama Kolosal ini untuk mengenang perjuangan Pemberontakan Tentara PETA dan menanamkan nilai kepahlawanan. Acara yang dilaksanakan setiap tahun ini sangat penting, karena peristiwa Pemberontakan Tentara PETA ini sarat dengan nilai-nilai historis dan membawa dampak perjuangan pergerakan Nasional yang sangat besar.
Bahkan sangat layak kiranya jika Pemberontakan PETA Blitar disejajarkan dengan pertempuran-pertempuran bersejarah dan monumental lainnya, seperti pertempuran Surabaya 10 November 1945, pertempuran 5 hari di Semarang, Palagan Ambarawa, Bandung Lautan Api dan Puputan Margarana.
“Oleh karena itu masyarakat Blitar patut berbangga karena nama Kotanya juga tercatat dalam sejarah perjuangan Bangsa. Nama Blitar tidak dapat dilepaskan dari peristiwa Pemberontakan PETA Blitar 14 Februari 1945,” kata Muh. Samanhudi Anwar, SH.
Muh. Samanhudi Anwar, SH, mengatakan, pertempuran heroik yang ketika itu membangkitkan kembali semangat Bangsa Indonesia untuk terus berjuang merebut kemerdekaan. Pada peristiwa Pemberontakan PETA di Blitar ini juga menunjukkan bahwa para pendahulu, sesepuh warga Blitar juga memiliki semangat Nasionalisme yang tinggi. “Hal ini merupakan nilai positif yang harus kita warisi dan kita jadikan modal dalam mengisi kemerdekaan ini,” ujarnya.
Ditambahkan Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Blitar, M Sidik, dalam kegiatan drama kolosal Pemberontakan PETA ini pihaknya bekerja sama dengan berbagai lembaga Kesenian di Kota Blitar, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) se-Kota Blitar dan Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Kota Blitar untuk ikut berperan dalam drama kolosal ini yang melibatkan sekitar 350 pemain dengan judul ‘Pecah Dhada Wutah Ludira Sabaya Bela Bangsa’ dengan beberapa pemeran di antaranya Sudanco Soepriadi Koptu Alnafar, Daidanco Surahmadi oleh Kapten Wachid Purnomo, Chudanco dr. Suryo Ismangil oleh Koptu Solekan, Sudanco Muradi oleh Muhammad Awam dan sebagainya yang disutradarai Redi Wisono.
“Para pemain dalam drama kolosal ini selain para pelajar dan seniman yang bergabung dalam kegiatan ini juga dari Forpimda Kota Blitar termasuk pemeran Sudanco Soepriadi Koptu Alnafar dari Kodim 0808 Blitar,” kata M. Sidik. [htn.hel]