Nyata, Inflasi Ikuti Cuaca

Bulan Pebruari ini BPS (Badan Pusat Statistik) merilis indeks harga konsumen tercatat sebesar 110,99. Artinya, terdapat kenaikan harga-harga total hampir sebesar 12% selama Januari 2014. Walau pada sebulan itu inflasi tercatat “hanya” 1,07 persen. Kenaikan inflasi dan IHK (Indeks Harga Konsumen) tergolong rutin, tetapi tahun ini terjadi tren semakin naik. Januari tahun (2013) lalu inflasi tercatat tak lebih dari 0,9 persen.

Diduga penyebab meroketnya inflasi dan IHK, adalah terganggunya transportasi (distribusi) adalah banjir dampak hujan. Hampir di seluruh pulau Jawa dan sentra pangan lain terkendala banjir dan badai. Banyak ekspedisi laut dan perairan mengalami tunda layar. Kenaikan inflasi dan IHK terjadi di 78 kota (dari 82 kota yang disigi). Tertinggi tercatat di Pangkal Pinang, inflasi sebesar 3,79 persen dengan IHK 114,92.
Anehnya, sudah lebih dari sebulan kota Pangkal Pinang bercuaca cerah tidak hujan. Sehingga seharusnya distribusinya tidak terganggu cuaca. Aneh pula, terjadi deflasi (penurunan harga) di Sorong dan Manokwari. Padahal, dua kota di Papua Barat ini sangat bergantung pada suplai bahan makanan dari Makasar dan dari  Surabaya. Sedangkan banyak pelabuhan di Papua (termasuk di Sorong dan Manokwari) tidak disinggahi kapal karena berombak besar.
Banyak pelabuhan antar-pulau memilih menyetop pelayaran. Pelabuhan Gresik misalnya, kapal berbobot kurang dari 1000 dwt dilarang melaut. Hal yang sama terjadi di pelabuhan Mayangan di Probolinggo, dan Ketapang Banyuwangi. Pemandangan makin memprihatinkan tergambar pada seluruh tempat pelelangan ikan (TPI) dalam kawasan pelabuhan rakyat. Hampir tidak ada transaksi hasil tangkapan, karena tidak ada nelayan yang melaut. Aksi jual-beli di TPI yang ada saat ini diisi oleh ikan budidaya (tambak dan kolam air tawar).  
Sedangkan transportasi darat juga tertekan oleh banjir di berbagai jalan. Sehingga ratusan truk berisi bahan kebutuhan sehari-hari tak terangkut. Atau bahkan membusuk karena terlalu lama di perjalanan. Pangkalan parkir truk (maupun pinggiran jalan) kini lebih ramai dijajari truk yang memilih berhenti jalan daripada terperangkap macet. Dengan demikian operasional angkutan darat memerlukan ekstra biaya (setidaknya tambahan uang jalan untuk awak armada). Itulah yang mendorong inflasi.
Pemicu inflasi terutama terjadi pada kebutuhan terpenting tiap rumahtangga. Yakni, kelompok bahan makanan 2,77 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 1,01 persen. Secara umum, bandingan kenaikan harga-harga pada bulan Januari 2014 dengan Januari 2013, naik sebesar 8,22 persen. Karena inflasi meliputi “kebutuhan dapur,” (kebutuhan primer) maka patut dikhawatirkan bisa berdampak lebih serius, yakni makin bertambahnya keluarga miskin.
Kekhawatiran itu tergambar dari respons Kementerian Bappenas/PPN yang terus mewaspadai kenaikan harga pangan, karena bisa mempengaruhi makro ekonomi. Misalnya penurunan daya beli, sehingga mengurangi akumulasi perputaran uang. Diharapkan, pada akhir bulan Maret sampai awal April harga-harga sudah mulai stabil. Pada saat itu, curah hujan berkurang, sekaligus sebagian daerah sudah memulai panen.
Sebagaimana tahun (2013) lalu musibah banjir juga menjadi pemicu gagal panen dan paceklik. Sehingga terjadi kelangkaan bahan pangan. Pada saat sama banjir menyebabkan sektor distribusi mengalami kendala di jalan, mengurangi suplai. Ujung-ujugnya biaya transportasi juga naik. Bahkan menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) karena cuaca pula, upah jasa tukang dan upah pembantu rumahtangga turut naik.
Ancaman banjir belum menunjukkan tren surut, ditambah pula dengan status waspada gunung Kelud. Beberapa sentra pangan di kabupaten Kediri, Blitar dan Malang, juga mewaspadai aktifitas Kelud. Dus, inflasi bisa meroket lagi. Karena itu pemerintah daerah mesti bersiap-siap menggencarkan operasi pasar. Perusahaan swasta dan BUMN/BUMD seyogianya mulai melaksanakan program tanggungjawab sosial (CSR).

Rate this article!