Antara Pendidikan Moral dan Kriminalitas

Setiap hari, banyak kasus kriminalitas menghiasi berita-berita media massa, baik cetak maupun elektronik. Namun, bagaimana mewaspadai agar aksi-aksi kriminalitas yang banyak menimpa rakyat itu bisa diminimalkan? Pertanyaan ini muncul karena keprihatinan sekaligus kepedihan menyaksikan kian maraknya tindak kriminalitas menimpa sesama anak bangsa tanpa pandang bulu.
Kenapa semudah itu kejahatan terjadi di tengah bangsa yang beradab dan dilandasi dasar falsafah Pancasila? Memang, ada yang bilang bahwa Pancasila tinggal kenangan. Meski Pancasila sering disebut-sebut namun tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
memang, masih ada pejabat atau mantan pejabat yang terus-menerus menyuarakan kebersamaan, kemandirian dan mengajak saling bergandengan tangan membangun bangsa yang luas dari Sabang hingga Merauke. Namun, harus diakui bahwa banyak pula di antara pejabat sekarang ini yang sepertinya tidak hirau lagi dengan nilai-nilai Pancasila.
Ada kesan mereka bekerja seolah hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya saja, tanpa mempedulikan nasib kebanyakan rakyat. Apakah pejabat macam ini mau memahami dan bersimpati dengan fakta masih banyaknya anak bangsa yang hidup pas-pasan bahkan serba berkekurangan, alias miskin, sepanjang waktu hidup di jalanan, atau tidak mempunyai mata pencaharian sehingga tidak tahu apa yang harus dikerjakannya?
Apakah mereka yang tidak jelas usaha dan pekerjaannya itu tidak potensial menyumbang tingginya angka kriminalitas di tengah bangsa ini? Tentu tidak mutlak seperti itu. Namun, kejahatan yang terjadi saat ini, kelihatannya tidak semata dilakukan oleh kaum pengangguran, atau orang miskin saja. Tetapi, malah oleh orang yang mempunyai kekuasaan, menguasai persenjataan, atau bukan orang yang lemah.
Lalu, bagaimana mewaspadai kejahatan, sementara orang berada pada posisi yang lemah, dan sulit melakukan komunikasi dengan orang yang punya kekuatan dan power?

Jika sekarang diakui bahwa materi menjadi biang kerok hingga orang saling sikut dan adu kuat, maka harus ada antisipasi terhadap adu kekuatan ini. Harus ada pemisah, yakni moral seperti disuarakan oleh para ulama, kyai maupun kaum agamawan pada umumnya.
Dalam hal ini, pendidikan dituding ikut menyumbang meningkatnya kriminalitas karena tidak adanya moral yang kuat dalam pengajaran di sekolah-sekolah. Karena itu, sekarang tiba saatnya kembali pada moral agar orang saling peduli, penuh kebersamaan dan saling mengasihi.

Umi K
Alamat ada di redaksi