Disperindag Jatim Siap Segel SPBU Nakal

Surabaya, Bhirawa
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur (Disperindag) siap menyegel sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) nakal di provinsi ini karena mereka melakukan berbagai kecurangan demi mendapatkan keuntungan besar.
“Apalagi, kini rencana kenaikan harga bahan bakar minyak semakin gencar sehingga kami meningkatkan pengawasan ke SPBU di Jatim,” kata Kepala Disperindag Jatim, Budi Setiawan, di Surabaya, Selasa.
Menurut dia, peningkatan pengawasan tersebut lebih difokuskan kepada pompa BBM yang tersedia di sejumlah SPBU di Jatim. Upaya itu dilakukan dengan mengerahkan tim metrologi.
“Sejak sepekan terakhir, kami meminta tim metrologi untuk lebih intensif memeriksa bagaimana takaran tera meter di tiap SPBU di Jatim agar kondisinya masih sesuai standar,” ujarnya.
Selama ini, ungkap dia, memang ada laporan jika ada SPBU yang diduga telah melakukan kenakalan dengan mengubah standar tekanan tera meter di Jatim.
“Namun setelah tim metrologi kami ke lokasi, ternyata SPBU tersebut nihil bertindak curang,” katanya.
Mengenai potensi kenakalan SPBU di Jatim, tambah dia, sampai sekarang sesuai keberadaan tim metrologi yang ditempatkan di enam titik di Jatim pihaknya belum menemukan daerah mana yang berpeluang melakukan kecurangan.
“Apalagi, kami rutin menerapkan pemeriksaan ke masing-masing SPBU. Bahkan, jadwalnya sudah diatur oleh tim metrologi yang berada di tingkat kabupaten/kota seperti di Bojonegoro, Malang, Jember, Madiun, Kediri, dan Surabaya,” katanya.
Sementara itu, kata dia, pengalaman pengawasan pada tahun sebelumnya Tim Metrologi Disperindag Jatim telah menemukan SPBU yang nakal.
“Ketika terbukti melakukan tindakan itu, kami tak segan untuk menyegelnya. Tapi jumlahnya tidak banyak,” katanya.
Jika dibandingkan pada hari normal, lanjut dia, justru tingkat kenakalan pengusaha SPBU lebih tinggi dibandingkan seperti sekarang seiring rencana kenaikan harga BBM bersubsidi menjadi Rp6.000 per liter. Apalagi, saat itu mereka lebih untung.
“Di sisi lain, kami imbau konsumen tetap membeli BBM bersubsidi sesuai kebutuhan normal. Jangan panik dengan isu kenaikan harga komoditas tersebut menyusul ‘panic buying’ justru mengganggu ketersediaan stok,” katanya. [@.HBO]